BLITAR – Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Kabupaten Blitar, menggelar kegiatan Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum Penataran Blitar yang digelar di Gedung Storage Museum Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.
Seminar ini dilaksanakan selama dua hari yakni pada Senin (13/12/2021) hingga Selasa (14/12/2021) dan diikuti oleh banyak kalangan mulai dari pegiat seni budaya, pemerhati sejarah dan cagar budaya hingga kalangan akademisi. Hal ini ditujukan guna menambah pemahaman dan informasi terkait koleksi yang ada pada museum Penataran.
Kepala Bidang Kebudayaan, Disparbudpora Kabupaten Blitar, Hartono mengatakan, kegiatan Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum Penataran ini lebih ditekankan pada intepretasi terhadap benda koleksi. Koleksi museum penataran perlu untuk digali latar belakang sejarahnya sehingga dapat didayagunakan hasilnya dalam rangka pembangunan jati diri bangsa.
“Dari hasil kajian koleksi museum ini diharapkan masyarakat luas dapat mengetahui, mempelajari dan memahami sejarah dan budaya tentang Kabupaten Blitar. Seperti diketahui visi museum, yaitu mewujudkan masyarakat yang cinta dan bangga terhadap budaya sendiri, serta misi museum yaitu mengoptimalkan tugas dan fungsi museum sebagai tempat wisata budaya secara komunikatif, produktif, inovatif, ekonomis dan nyaman kepada masyarakat umum. Maka pengelola museum berupaya mengembangkan informasi koleksi dan berusaha menyebarluaskan informasi koleksi kepada masyarakat luas,” paparnya.
Disampaikannya, bahwa Museum Penataran merupakan wahana berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi berupa benda Cagar Budaya atau yang bukan Cagar Budaya, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Di era yang serba digital ini peran media penting dalam mewujudkan pengembangan museum. Melalui media, museum mampu memiliki akses atau jangkauan yang lebih luas.
“Diharapkan melalui Seminar Hasil Kajian Museum Penataran ini program-program museum dapat bersinergi dengan semua pihak termasuk komunitas, akademisi, pelajar maupun media sehingga akan lebih cepat dikenal masyarakat umum,” jelas Hartono.
Dengan kemasan yang lebih kreatif dan inovatif di media digital, diharapkan Museum Penataran mampu menarik pengunjung dan mengembalikan citra museum sebagai pusat informasi sejarah, sarana rekreasi sekaligus edukasi yang menyenangkan.
“Di Museum Penataran ini banyaknya bukti-bukti arkeologis, folklore, ritus, kesenian dan budaya adi luhung Blitar sejak peradaban klasik hingga sekarang. Oleh karena itu diharapkan museum menjadi rujukan utama sebagai tempat studi tentang kepemimpinan dan leadership. Untuk itu, jika ingin belajar tentang kepemimpinan dan leadership, datanglah ke Blitar,” tuntasnya.
