Blitar – Setiap Rabiulawal (bertepatan dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW), masyarakat Kabupaten Blitar selalu menggelar tradisi siraman pusaka Gong Kyai Pradah sebagai wujud nguri-nguri atau melestarikan budaya bangsa. Agenda rutin tahunan yang juga merupakan kegiatan dari Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur ini bertujuan pula untuk melindungi cagar budaya agar tidak punah bergeser budaya saat ini. Supaya anak cucu kelak tahu, bahwa Sirman Gong Kyai Pradah adalah aset nusantara yang harus tetap lestari. Demikian ungkapan Wakil Bupati Blitar, H. Rijanto dalam sambutannya pada acara Siraman Gong Kyai Pradah di Pendopo Kecamatan Sutojayan, Minggu (4/1).
Orang nomor dua di Kabupaten Blitar yang didampingi oleh Ibu Niniek Rijanto, sejumlah Kepala SKPD, unsur Forpimda serta tamu undangan dari Dinas Pariwisata Jawa Timur dan perwakilan Bakorwil Madiun ini menjelaskan, siraman Gong Kyai Pradah merupakan salah satu bentuk buadya adat Jawa yang menyokong pengoptimalan ekonomi kreatif yang notabene saat ini digaungkan oleh pemerintah pusat. Ekonomi kreatif berlandaskan budaya lokal. Untuk itu, perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Wakil Bupati mengingatkan, kebudayaan Indonesia adalah cermin pribadi bangsa. Harapannya, masyarakat Kabupaten Blitar khususnya tetap rukun, sejahtera dan terhindar dari disintegrasi. Sehingga Kabupaten Blitar yang juga terkenal dengan sebutan Seribu Candi ini, tetap menjadi Blitar Kawentar.
Sementara itu, Camat Sutojayan, Eko Supriyadi mengungkapkan, siraman pusaka Gong Kyai Pradah yang mereupakan tinggalan leluhur ini membuat ekonomi masyarakat khususnya Kecamatan Sutojayan meningkat. Tradisi ini mampu menyedot animo masyarakat baik lokal maupun dari luar wilayah Kabupaten Blitar untuk melihat prosesi adat siraman pusaka ini. Rangkaian upcara siraman ini antara lain; upacara sepasaran yakni sesudah lima hari setelah upcara siraman ada upacara selapanan yakni 30 hari setelah siraman.
Orang nomor satu di Kecamaatn Sutojayan ini juga berpesan, agar masyarakat senantiasa menghormati alam, sehingga musibah seperti banjir, tanah longsor dapat dihindari. Juga selalu mengutamakan hidup gotong royong yang telah menjadi ciri khas masyarakat Kabupaten Blitar.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, air siraman dan tumpeng Gong Kyai Pradah tersebut menjadi rebutan masyarakat. Tradisi masyarakat, air siraman tersebut membawa berkah.
Sejarah Pusaka Gong Kyai Pradah
Dikutip dari cerita Babat Pusaka Kyai Pradah di Lodoyo menurut Serat Babat Tanah Jawi, antara tahun 1704 – 1719 Masehi di Surakarta bertahtalah seorang Raja bernama SRI SUSUHUNAN PAKU BUWONO I. Raja ini mempunyai saudara tua yang lahir dari istri ampeyan (bukan Permaisuri) bernama PANGERAN PRABU. PANGERAN PRABU sangat kecewa karena sebagai saudara tua PANGERAN PRABU tidak dinobatkan sebagai Raja di Surakarta sehingga timbullah keinginannya untuk membunuh SRI SUSUHUNAN PAKU BUWOONO I. Namun akhirnya keinginun PANGERAN PRABU tersebut tercium oleh SRI SUSUHUNAN PAKU BUWONO I dan sebagai hukumannya PANGERAN PRABU diperintahkan untuk membuka hutan di daerah Lodoyo yang pada saat itu merupakan hutan yang sangat lebat yang dihuni oleh binatang – binatang buas serta hutan tersebut dianggap sebagai tempat yang sangat angker. Keberangkatannya diikuti oleh istrinya yaitu Putri WANDANSARI serta abdi kesayangannya bemama KI AMAT TARIMAN dengan membawa Pusaka berupa bende yang disebut Kyai Becak. Pusaka tersebut akan digunakan untuk tumbal hutan Lodoyo yang dianggap angker serta banyak dihuni oleh roh – roh jahat.
PANGERAN PRABU yang masih merasakan penderitaan dan kesedihan itu tidak lama tinggal di rumah janda NYI PARTASUTA dan ingin bertapa di hutan Pakel ( Wilayah Lodoyo bagian barat) dan untuk itu Pusaka Kyai Becak dititipkan kepada NYI PARTASUTA dengan pesan agar:
- Setiap tanggal 1 Syawal (bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri ) dan setiap tanggal 12 Rabiulawal ( bertepatan dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW) Pusaka tersebut harus dimandikan dengan air bunga setaman.
- Air bekas memandikan Pusaka tersebut dapat digunakan menyembuhkan penyakit serta dapat menentramkan hati bagi siapa yang mau meminumnya.
Pada suatu waktu KI AMAT TARIMAN sangat kebingungan karena terpisah dengan PANGERAN PRABU, sehingga akhirnya KI AMAT TARIMAN ingin mencoba membunyikan Gong Kyai Becak sebanyak tujuh kali dengan maksud agar apabila PANGERAN PRABU mendengar bunyi bende / Gong tersebut tentu akan mencari kearah sumber suara itu. Tetapi yang datang ternyata bukan PANGERAN PRABU seperti yang diharapkan namun beberapa ekor harimau besar. Anehnya harimau – harimau itu tidak mengganggu kepada KI AMAT TARIMAN bahkan memberikan petunjuk dimana PANGERAN PRABU berada sehingga Kyai Becak juga disebut Kyai Macan atau Kyai Pradah.
Dari Pesanggrahan Pakel PANGERAN PRABU menuju kearah barat namun tidak lama berselang mereka bertemu dengan para prajurit – prajurit utusan dari Kerajaan Surakarta yang akhimya timbul perselisihan dan terjadilah peperangan yang di menangkan oleh PANGERAN PRABU. Setelah dirasa sudah betul – betul aman PANGERAN PRABU melanjutkan perjalanannya menuju kearah barat yaitu kehutan Keluk yang sekarang di sebut Desa Ngrejo. Di tempat ini PANGERAN PRABU memangkas rambutnya dan ditanam bersama – sama dengan mahkota kebangsawanannya. Tempat penanaman itu sampai sekarang masih dikeramatkan oleh penduduk setempat dan sekitarnya. PANGERAN PRABU melanjutkan perjalannya menuju hutan Dawuhan. Di tempat itu PANGERAN PRABU membuka ladang pertanian dengan menanami padi Gaga. Namun karena tanahnya pusa sehingga tanaman padi Gaga tersebut tidak dapat dipanen dan akhirnya tempat itu diberi nama Gagawurung.
Dari Gagawurung PANGERAN PRABU melanjutkan perjalanan menuju kearah timur dan sampailah mereka di hutan Darungan. Di tempat ini istrinya melahirkan seorang putra namun putra tersebut tidak berumur panjang karena meninggal dunia dan dimakamkan di gunung Pandan disebelah utara gunung bebek. Perjalanan PANGERAN PRABU dilanjutkan lagi menuju kearah timur melewati Jegu dan sampailah di hutan Kedungwungu. Beberapa bulan di tempat ini NY I WANDANSARI akhimya mengalami hamil tua. Oleh PANGERAN PRABU, NYI WANDANSARI diajak naik ke gunung di Kaulon dan disinilah NYI WANDANSARI melahirkan putra kembar namun putra kembar tersebut juga tidak berumur panjang dan meninggal dunia.
Sementara itu NYI PARTASUTA dimana sepeninggal PANGERAN PRABU selalu melaksanakan segala yang pernah dipesankan oleh PANGERAN PRABU kepadanya tentang Pusaka Kyai Becak. Setelah NYI PARTASUTA meninggal dunia, Pusaka Kyai Becak diserahkan kepada KI REDIBOYO di Ngekul. Dari KI REDIBOYO, pusaka Kyai Becak diturunkan kepada KI DALANG REDIGUNO di Kepek. Dari KI DALANG REDIGUNO Pusaka Kyai Becak diturunkan kepada KYAI IMAM SAMPURNA. Pada suatu ketika, karena KYAI IMAM SAMPURNA dipanggil ke istana Surakarta, maka Pusaka Kyai Becak atau Kyai Pradah diserahkan kepada adiknya bemama KYAI IMAM SECO yang berdiam di Sukoanyar (sekarang disebut Desa Sukorejo), yang pada waktu itu menjabat sebagai wakil Pengulu di Blitar. Pada tahun 1793 KYAI IMAM SECO meninggal dunia dan Kyai Pradah dirawat dan dipelihara oleh Raden RONGGOKERTAREJO dan ditempatkan di Desa Kalipang Lodoyo sampai sekarang.
Bentuk Kyai Pradah berupa Gong (kempul) laras lima yang dahulu dibalut/ ditutup dengan sutera Pelangi / Cinde. Sampai sekarang pesan PANGE RAN PRABU untuk memelihara Pusaka Kyai Pradah tetap dilaksanakan dengan baik serta dikenal dengan Upacara Adat Tradisional Siraman Pusaka Gong Kyai Pradah setiap tanggal 1 Syawal dan setiap tgl. 12 Rabiulawal. (Humas/www.blitarkab.go.id)
