Ritus Jamasan Kyai Bonto di Kebonsari Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Blitar

BLITAR – Tidak hanya ritual jamasan pusaka Gong Kyai Pradah di Lodoyo saja yang dilakukan setiap Bulan Maulud, jamasan pusaka wayang kayu Kyai Bonto juga digelar di Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Minggu (9/10/2022).

Seperti halnya Jamasan Gong Kyai Pradah di Lodoyo, jamasan pusaka ini mengundang animo ribuan warga yang menanti berkah dari bekas air untuk mensucikan wayang kayu Kyai Bronto. Warga percaya air tersebut dapat mendatangkan berkah kebaikan.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar Suhendro Winarso mengatakan, Jamasan wayang Kyai Bonto di Desa Kebonsari ini juga telah mendapat sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kemendikbud dan Ristekdikti RI pada Tahun 2022 ini.

“Kita tahu bersama bahwa Jamasan Gong Kyai Pradah telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), kini di tahun 2022 ini giliran Jamasan Wayang Mbah Bonto di Desa Kebonsari Kecamatan Kademangan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kabupaten Blitar,” kata Suhendro.

Seperti diketahui, Jamasan Wayang Kyai Bonto memang masih berkaitan erat dengan keberadaan Gong Kyai Pradah yang ada di Kecamatan Sutojayan. Keduanya merupakan pusaka yang dibawa oleh Sunan Prabu Amangkurat Mas saat melarikan diri dari kekacauan di Keraton Surakarta Hadiningrat.

“Menurut sejarah, Sunan Prabu Amangkurat Mas bersama istrinya berjalan ke arah timur. dalam perjalanannya Sunan Prabu Amangkurat Mas singgah di Blitar, tepatnya di Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan. Di tempat ini beliau memiliki seorang putri yang bernama Raden Ayu Suwartiningsih yang setelah meningalnya dimakamkan di sebuah bukit yang sekarang berada di Dusun Pakel,” urai Suhendro.

Dalam perjalanannya, Sunan Prabu Amangkurat Mas membawa pusaka berupa dua kotak wayang krucil yang disebut Kyai Bonto dan sebuah gong yang bernama Kiai Becak. Konon kedua pusaka tersebut boleh dibuka oleh gurunya ketika dalam kesulitan.

Akhirnya wayang tersebut dibuka oleh Pangeran Prabu ketika sedang singgah di sebuah bukit dibawah pohon pakel. Disitu beliau merasa sedang dalam kesusahan karena istrinya hamil tua dan melahirkan, akan tetapi puterinya yang baru berusia semalam. Akhirnya wayang Kiai Bonto ditinggal di Dusun Pakel dimana tempat puterinya dimakamkan, sedangkan Gong Kiai Becak tetap dibawa hingga ke Lodoyo.

“Setibanya di Lodoyo, Pangeran Prabu menemui peristiwa yang aneh disana karena sedang terjadi pageblug. Banyak warga di Lodoyo yang paginya sakit sorenya meninggal dan sorenya sakit paginya meninggal. Melihat peristiwa itu Pangeran Prabu merasa iba dan memberikan pusaka Gong Kiai Becak pada Mbok Rondo Dadapan untuk mengatasi musibah itu, akhirnya musibah itu bisa teratasi dan akhirnya Gong itu ditinggal disitu dan dititipkan pada mbok Rondo Dadapan,”

Sepeninggal Pangeran Prabu, kedua pusaka ini kemudian disucikan tiap bulan Maulud. Masyarakat percaya bekas cucian dari kedua pusaka ini mengandung banyak keberkahan.

Sampai saat ini kedua tradisi ini kini rutin digelar tiap Bulan Maulud bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Jamasan pusaka ini selalu ditunggu dan mengundang animo ribuan warga yang menanti berkah dari bekas air untuk mensucikan wayang kayu Kyai Bronto.